BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

  • Pengertian Istilah ‘Arab dan A’rab

A’rab adalah orang-orang Arab yang tinggal di pedalaman, berpindah-pindah dari satu oase ke oase yang lain. Mereka terkenal lugas, sederhana, dan berani. Tidak terikat dengan aturan kekuasaan selain suku mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan ada dua golongan A’rab di dalam Al Quran:

Pertama, ahlu jafa` (orang-orang yang kasar dan kurang berpendidikan). Tentang mereka Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang A’rab itu lebih berat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah), sebagai suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpa kalian, merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” [Q.S. At Taubah 97-98].

Juga firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang A’rab yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, ‘Harta dan keluarga kami telah menyibukkan Kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam qalbunya. Katakanlah, ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagi kalian atau jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian. Sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Tetapi kalian menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak akan kembali kepada keluarga mereka selamalamanya dan persangkaan itu dianggap baik dalam qalbu kalian, dan kalian telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kalian menjadi kaum yang binasa.” [Q.S. Al Fath 11-12].

Yang kedua, ahlu iman wa birr (orang-orang yang beriman dan bertakwa). Allah Ta’ala berfirman mengenai golongan ini: 

“Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. At Taubah 99]. (Iqtidha` Shirathal Mustaqim (1/410) tahqiq DR. Nashr Al ‘Aql.)

Adapun ‘Arab, ada yang menyebutkan bahwa mereka adalah sebagian golongan manusia yang tinggal di kota-kota besar.

Pendapat lain, menurut istilah yang berkembang di tengah masyarakat, lafazh ‘Arab berasal dari a’raba yang artinya al bayan, dan ini diambil dari ungkapan:

أَعْرَبَ الرجُلُ عَنْ حَاجَتِهِ

(Pria itu menerangkan keperluannya). Dinamakan demikian karena umumnya mereka memiliki kemampuan dalam menerangkan (bayan) dan balaghah (kefasihan dan keindahan bahasa). Sedangkan selain mereka dikatakan ‘ajam, yaitu orang-orang yang tidak fasih dalam berbicara bahasa ‘Arab, meskipun dia seorang ‘Arab. (Nihayatul ‘Arib (1/4))

Adapun menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, lafazh ‘Arab pada asalnya adalah istilah untuk masyarakat yang memiliki tiga sifat berikut:

Yang pertama, bahasa mereka adalah bahasa ‘Arab.

Yang kedua, mereka adalah keturunan orang-orang ‘Arab.

Yang ketiga, tempat tinggal mereka adalah tanah ‘Arab, yaitu dari laut Merah sampai laut Bashrah (Teluk Persia, sekarang), dan dari pedalaman Hajar di Yaman sampai permulaan Syam. Di wilayah inilah orang-orang ‘Arab hidup baik sebelum maupun sesudah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Iqtidha` Shirathal Mustaqim (1/166))

  • Asal-Usul Bangsa ‘Arab

Ahli sejarah membagi Arab menjadi tiga bagian: ‘Arab Baidah, ‘Arab ‘Aribah, dan ‘Arab Musta’ribah. Ada juga yang hanya menyebutkan ‘Arab ‘Aribah dan ‘Arab Musta’ribah.

‘Arab Baidah adalah bangsa ‘Arab kuno yang hanya tinggal cerita, mereka adalah kaum Jurhum yang pertama, termasuk di dalamnya kaum ‘Ad, dan Tsamud. Bangsa-bangsa ini sudah punah. Tetapi beberapa karya dan peninggalan mereka masih dapat dilihat sampai saat ini, di sebagian wilayah di jazirah Arab. Seperti rumah-rumah yang mereka buat dari bukit-bukit cadas yang dipahat.

Adapun Jurhum kedua adalah keturunan Qahthan. Dengan merekalah Isma’il bin Ibrahim alaihissalam sempat bergaul, karena bangsa ini pernah singgah dan menetap di Makkah. Keturunan Qahthan inilah yang dikenal sebagai ‘Arab ‘Aribah dan menetap di Yaman. Sedangkan, ‘Arab Musta’ribah adalah anak cucu Nabi Isma’il bin Ibrahim alaihissalam.

  • Tentang ‘Arab Baidah

Sebagaimana telah disebutkan bahwa mereka adalah Jurhum pertama, termasuk di dalamnya ialah bangsa ‘Ad, Tsamud, Judais, ‘Amaliq dan Thasim. Mereka mendiami daerah Yamamah di jazirah Arab. Dahulu, mereka diperintah oleh seorang raja dari Thasim selama beberapa kurun waktu sampai akhirnya kekuasaan jatuh ke tangan penguasa lalim. Ketika kelaliman ini berlangsung cukup lama, orang-orang Judais menyiapkan rencana membunuh sang penguasa. Mereka menimbun senjata mereka di tanah, menyiapkan hidangan dan mengundang penguasa lalim itu. Setelah dia hadir bersama pengawalnya dari Thasim, Judais segera mencabut senjata mereka dan menyerang raja dan para pengikutnya. Raja itu tewas, tetapi salah seorang pengikutnya berhasil melarikan diri dan mengadukan peristiwa ini kepada Hassan bin Sa’ad Raja Tubba’ di Yaman. Hassan bin Sa’ad yang menerima pengaduan itu lalu membawa pasukannya menuju Judais dan membasmi mereka. Setelah itu, tidak lagi terdengar berita tentang Judais dan Thasim. Demikian pula ‘Aad dan Tsamud yang dihancurkan oleh Allah karena kekafiran dan pengingkaran mereka terhadap Rasul yang Allah utus kepada mereka masing-masing, Hud dan Shalih alaihissalam.

  • ‘Arab ‘Aribah

‘Arab ‘Aribah ialah orang-orang yang berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa lama yang digunakan oleh Ya’rub bin Qahthan.

Mereka adalah anak cucu Qahthan bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh. Mereka menetap di Hijaz. Setelah Ibrahim alaihissalam meninggalkan anak istrinya di Makkah, orang-orang Jurhum mulai mendekat dan menetap di sana. Mereka menjalin hubungan keluarga dengan Isma’il dan menikahkan beliau alaihissalam dengan gadis kalangan mereka dua kali. Inilah sebabnya anak-anak Nabi Isma’il kemudian disebut sebagai Arab Musta’ribah (yakni, Arab yang sudah tercampur dengan selain darah Arab, Allahu a’lam). (Ibnu Katsir rahimahullah menukil riwayat Al Bukhari (4/156) yang mencantumkan Bab Nisbah orang-orang Yaman kepada Isma’il alaihissalam. Dari riwayat ini beliau menyimpulkan bahwa orang-orang Yaman adalah keturunan Isma’il alaihissalam. Tetapi jumhur ulama berpendapat bahwa keturunan Qahthan (‘Arab ‘Aribah); orang-orang Yaman bukan keturunan Isma’il alaihissalam. Lihat Al Bidayah wan Nihayah (2/188))

Termasuk ‘Arab ‘Aribah ini adalah anak cucu Saba` yang aslinya bernama ‘Abdusy Syams. Karena sering melakukan peperangan dan menawan lawannya, dia dijuluki Saba` (yang artinya menawan). Saba` ini adalah putra Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan.

Saba` mempunyai beberapa orang putra, di antaranya Himyar, Kahlan, ‘Amr, dan Asy’ar.

Seluruh kabilah ‘Arab di Yaman dan raja-raja mereka (Tubba’) adalah keturunan Saba` ini. Ahli sejarah menerangkan pula bahwa raja-raja Yaman yang bergelar Tubba’ ini adalah putra Himyar bin Saba`, kecuali ‘Amran dan saudaranya Maziqiya, karena keduanya adalah putra ‘Amir bin Haritsah bin Imri`il Qais bin Tsa’labah bin Mazin bin Al Azd, dari keturunan Kahlan bin Saba`.

Termasuk keturunan Himyar bin Saba` ini adalah Qudha’ah bin Malik bin Himyar, yang menjadi raja di Syihr. Kuburan Qudha’ah ini terdapat di salah satu gunung di Syihr.

Qudha’ah melahirkan Bani Kalb yang menetap di Daumatul Jandal, Tabuk dan perbatasan Syam. Termasuk dari kabilah ini adalah Haritsah Al Kalb, ayahanda Zaid bin Haritsah maula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Termasuk buthun Himyar adalah Banu Sya’ban, salah satu tokoh terkenal dari kalangan mereka adalah Asy Sya’bi, ‘Amir bin Syurahil, salah seorang ulama kaum muslimin (tabi’in, w. 104/105/106 H, ada silang pendapat kapan beliau meninggal). (Buthun adalah bentuk jamak dari bentuk tunggal ‘bathn’, yaitu sekelompok orang, lebih kecil daripada kabilah.)

Dari Bani Kahlan muncul tujuh kabilah terkenal, yaitu Al Azdi, Thayyi`, Mudzhij, Hamadzan, Kindah, Murad, dan Anmar.

Dari kabilah Al Azdi ini lahir Al Ghassasinah (gelar raja-raja Syam). Mereka adalah keturunan Bani ‘Amr bin Mazin bin Al Azd.

Dari Al Azdi pula lahir Aus dan Khazraj yang bermukim di Madinah. Termasuk dalam keluarga Al Azdi ini adalah suku Khuza’ah, Bariq, Daus, ‘Atik, dan Ghafiq. Mereka inilah buthun Al Azdi.

Dari suku Khuza’ah lahir Bani Mushthaliq, kabilah Ibunda kaum mukminin Juwairiyah bintu Al Harits Al Mushthaliqiyah radiallahuanhu.

Adapun Daus, adalah putra ‘Adnan bin ‘Abdullah bin Wahzaan bin Ka’b bin Al Harits bin Ka’b bin Malik bin Nashr bin Al Azdi. Mereka menetap di Tihamah hingga tepi Irak. Dari kabilah inilah Abu Hurairah radiallahuanhu berasal.

Suku Thayyi` adalah suku ‘Adi bin Hatim radiallahuanhu. Adapun Asy’ar, kabilah Abu Musa, juga termasuk keturunan Saba`.

  • ‘Arab Musta’ribah

Mereka adalah anak cucu Nabi Isma’il bin Ibrahim Al Khalil alaihissalam. Dikatakan Musta’ribah karena bahasa mereka yang pertama adalah bahasa Nabi Isma’il, yaitu Ibrani. Setelah bergaul dengan bangsa Jurhum, keturunan Qahthan yang berbicara dengan bahasa Arab, Nabi Isma’il mempelajari bahasa mereka dan menikah dengan wanita Jurhum. Setelah itu, keturunan beliau alaihissalam berbicara dengan bahasa Arab.

Sejarah ‘Arab Musta’ribah ini tidak lepas dari sejarah Nabi Ibrahim alaihissalam. Sebab, beliau meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah di dekat Baitullah Al Haram yang masih belum dihuni manusia.

Sebagian ulama menyebutkan beberapa alasan mengapa Nabi Ibrahim alaihissalam membawa Hajar dan putranya Isma’il meninggalkan Palestina menuju negeri yang tandus di pedalaman jazirah Arab (Hijaz). Namun, alasan-alasan itu tidak bersumber dari riwayat yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh sebab itu, kita kembalikan kepada asalnya, bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam membawa Hajar adalah karena perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang sesuai dengan riwayat yang sahih dari Ibnu ‘Abbas radiallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berikut ini adalah kisahnya secara ringkas. Setelah jelas mendapat perintah untuk membawa Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim pun berangkat melintasi sahara yang panas. Dari Palestina ke Makkah, menembus padang pasir dan kerikil yang membara. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan.

Berbekal tekad melaksanakan perintah Allah yang pasti mengandung kebaikan, Ibrahim alaihissalam membawa Hajar dan putranya yang sedang disusuinya sampai di dekat Baitullah. Kemudian beliau alaihissalam meninggalkan mereka di dekat sebatang pohon besar, di atas sumur Zamzam (yang waktu itu belum ada) di bagian Masjid yang tertinggi (waktu itu belum berwujud masjid). Saat itu tidak ada seorang manusia pun berada di Makkah selain mereka. Tidak pula ada air.

Begitu tiba di lokasi yang kemudian dibangun di atasnya Baitullah (Ka’bah) Ibrahim segera meninggalkan keduanya sambil meletakkan sebuah kantung berisi kurma dan tempat minum. Setelah itu, nabi Ibrahim berbalik meninggalkan Hajar dan putranya.

Hajar heran melihat Ibrahim pergi begitu saja tanpa berkata sepatah pun. Dengan cepat dia mengejar Ibrahim sambil bertanya, ”Hai Ibrahim, hendak ke mana engkau? Apakah engkau hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya?”

Ibrahim tak menoleh sedikit pun. Hajar semakin heran, tetapi tetap mengikuti langkah Ibrahim dan bertanya. Ibrahim masih diam.

Akhirnya Hajar berkata,”Apakah Allah Yang menyuruhmu?”

“Ya.” jawab Ibrahim tegas.

Mendengar jawaban tersebut, Hajar berkata, ”Kalau begitu, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Dengan tenang, Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Nabi Ibrahim alaihissalam terus berjalan hingga ketika tiba di dekat sebuah tikungan, dan sudah tak terlihat lagi oleh Hajar, Ibrahim berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Baitullah, lalu berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, seperti diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) Wahai Rabb Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, Wahai Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [Q.S. Ibrahim:37].

Setelah itu, Ibrahim alaihissalam kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Palestina.

Hajar yang ditinggalkan di tempat sunyi itu mulai menyusui Isma’il dan meminum air yang ada dalam perbekalan mereka. Tak lama, air itu pun habis. Hajar mulai kehausan. Bayi mungil itu pun mulai kehausan.

Di lembah yang tandus dan sunyi itu, seorang wanita muda dengan bayinya menghadapi kesulitan. Kalau bukan karena keyakinannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mungkin Hajar rela ditinggal begitu saja bersama anaknya yang masih membutuhkan perawatan dan kasih sayang.

Isma’il yang masih seorang bayi mulai menangis tidak tahan merasakan panas di lembah tandus itu. Semakin pilu hati Hajar melihat keadaan anaknya, sementara dia tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada anaknya. Air susunya sudah kering, bekal yang ditinggalkan Ibrahim sudah habis.

Hajar menoleh ke sana ke mari, mencari-cari mungkin ada sesuatu yang dapat menghentikan tangis anaknya. Akhirnya dia pun beranjak dari tempat itu karena tak tahan melihat keadaan putranya Isma’il.

Dia memandang ke depan, dan dia lihat bukit Shafa di hadapannya adalah bukit yang terdekat dengannya. Hajar pun melangkah mendaki bukit itu. Setelah berada di atas, dia memandang ke arah lembah apakah ada orang di sekitar situ. Tetapi, dia tak melihat siapa-siapa. Akhirnya Hajar turun dari Shafa, hingga ketika tiba di perut lembah, dia mengangkat ujung kainnya dan berjalan secepat-cepatnya sampai melewati lembah, menuju bukit Marwah yang berhadapan dengannya dan mendaki bukit itu.

Setelah tiba di atas, dia kembali melihat-lihat apakah ada orang di sekitar situ. Tujuh kali Hajar turun naik antara Shafa dan Marwah. Perbuatan Hajar ini, akhirnya diabadikan dalam syariat Islam sebagai salah satu amalan haji dan umrah yang sangat penting yaitu sa’i.

Setelah berada di puncak Marwah, Hajar mendengar suara yang samar, tetapi dia membantah, ”Diamlah!” maksudnya ditujukan kepada dirinya sendiri (khawatir halusinasi). Kemudian dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya dan kembali mendengar suara.

Akhirnya Hajar berkata, ”Anda sudah memperdengarkannya. Kalau memang memiliki air…”

Ketika melihat ke arah putranya, ternyata dia melihat malaikat di dekat lokasi Zamzam. Malaikat itu sedang mengorek sesuatu dengan sayapnya hingga tampaklah air. Hajar pun mendekat dan segera membendung air itu dengan tangannya. Dan mulailah dia menuangkan air itu ke dalam tempat minumnya, sementara air itu terus memancar sesudah diciduk.

Kata Ibnu ‘Abbas radiallahuanhu, ”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ”Semoga Allah merahmati Ummu Isma’il, seandainya dia membiarkan Zamzam -atau beliau berkata- Seandainya Hajar tidak menciduknya, pastilah zamzam menjadi mata air yang deras mengalir.”

Hajar mulai minum sepuasnya, dan menyusui putranya. Malaikat itu berkata kepadanya, ”Jangan takut tersia-sia, karena di sini akan dibangun Baitullah oleh anak ini dan bapaknya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”

Rumah itu di tempat tinggi seperti bukit yang dilewati aliran air di kiri kanannya.

Suatu ketika, setelah Isma’il mulai bertambah besar, serombongan bangsa Jurhum datang dari arah Kida` dan singgah di bagian bawah Makkah. Tiba-tiba, mereka melihat burung-burung menuju ke satu arah. Salah seorang dari mereka mengatakan, ”Burung-burung ini pasti menuju tempat air, padahal kita sudah sering melewati tempat ini dan tidak pernah ada air di sini.”

Karena penasaran, akhirnya mereka mengutus satu atau dua pencari air, dan ternyata mereka menemukannya. Mereka segera kembali dan menceritakan apa yang mereka lihat. Rombongan itu pun bersiap-siap untuk mendekat ke tempat air. Pada waktu itu, Ibu Isma’il kebetulan berada di dekat sumur Zamzam.

Melihat Hajar dan putranya Isma’il ada di sana, rombongan itu berkata, ”Apakah Anda mengizinkan kami tinggal di sini?”

Hajar yang menyukai kebersamaan, segera saja menerima, “Ya, tetapi kalian tidak berhak terhadap air ini.”

“Baiklah.” kata mereka.

Mereka pun turun dan menetap di sana. Sesudah itu, mereka mulai mengundang keluarga mereka dan tinggal bersama di lembah itu.

Semakin lama semakin banyaklah keluarga bangsa Jurhum itu pindah dan bermukim di sana, sementara pemuda Isma’il pun tumbuh dan belajar bahasa Arab dari mereka. Hal ini mengagumkan dan menyenangkan mereka.

Melihat Isma’il sudah beranjak menjadi pemuda gagah dan cerdas serta berbudi, mereka pun menikahkannya dengan salah seorang gadis di kalangan mereka.

Ringkas cerita, pernikahan itu tidak lama karena budi pekerti istri yang pertama ini dinilai kurang baik oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Kemudian, Nabi Isma’il alaihissalam menikah lagi dengan salah seorang wanita Jurhum. Dari pernikahan inilah kabilah-kabilah ‘Arab Musta’ribah berkembang.

Para ahli nasab sepakat bahwa ‘Adnan adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim alaihissalam, tetapi mereka berselisih dalam menetapkan silsilah dari ‘Adnan sampai Nabi Isma’il alaihissalam.

Dari ‘Adnan lahir Ma’d, dan Ma’d hanya mempunyai seorang putra, yaitu Nizar. Dari Nizar ini lahir pula empat putranya yang kemudian menjadi kabilah ‘Arab yang besar, yaitu Iyad, Anmar, Rabi’ah, dan Mudhar.

Keturunan Iyad tidak menetap di Hijaz, tetapi di pinggiran negeri Irak. Dari keturunan Iyad inilah asal penyair terkenal Qais bin Sa’idah Al Iyadi yang pernah berpidato di pasar ‘Ukkazh, “Hai manusia, dengarkanlah dan perhatikanlah. Siapa yang hidup pasti mati, dan yang mati pasti lenyap. Malam yang gelap. Siang yang terang. Langit dengan gugusan bintang-bintangnya. Sungguh, di langit ada berita. Di bumi ada pelajaran (ibrah). Ada apa dengan manusia, mereka pergi tetapi tidak kembali. Qais bersumpah demi Allah, sumpah yang tidak ada dosa padanya. Sesungguhnya Allah mempunyai agama yang lebih diridhai-Nya dari pada agama yang kalian anut ini dan sungguh kalian benar-benar melakukan sebagian urusan yang mungkar.”

Adapun Rabi’ah melahirkan kabilah Wail, Bakr, dan Taghlib. Dari suku Rabi’ah inilah asal Bani Hanifah dan Musailamah Al Kadzdzab.

Anak cucu Anmar bin Nizar menetap di Yaman. Bujailah dan Khats’am juga berasal dari keturunan Anmar.

Dari keturunan Mudhar, berkembang dua kabilah besar, yaitu Qais bin ‘Ailan dan Keturunan Ilyas bin Mudhar. Dari Ilyas ini muncul Kinanah yang kemudian melahirkan Quraisy kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Oleh: Al Ustadz Idral Harits Thalib Abrar

Sumber: Bangsa Arab Sebelum Islam Majalah Qudwah
Edisi 02/2012

Tinggalkan Balasan