‘IKRIMAH BERBURU SYAHID

‘IKRIMAH BERBURU SYAHID

Penulis Oleh : Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى

🅿ada perang Uhud, ‘Ikrimah
memimpin pasukan musyrikin dari sayap kiri, sedangkan sayap kanan dikomandoi oleh Khalid bin Al Walid. Bersama 3000 pasukan musyirikin, di antaranya 200 pasukan penunggang kuda, ‘Ikrimah menyerbu Rasulullah dan muslimin di Uhud. Membalas kekalahan mereka di Badr dan menuntut darah bapaknya.

Perang Uhud merupakan musibah dari Allah bagi pasukan Islam. Pada perang ini, sekitar 70 shahabat Anshar gugur. Sejumlah shahabat dari Quraisy, seperti Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, Mush’ab bin ‘Umair, Abdullah bin Jahsy wafat. Bahkan kepala Nabi ﷺ yang mulia pun terluka dan salah satu dari gigi seri beliau pecah.

Keislaman ‘Ikrimah


Permusuhan Ikrimah terhadap Islam terus dilancarkan tiada henti, hingga Allah سبحانه وتعالى membukakan Makkah untuk Rasulullah dan muslimin. Nabi ﷺ telah menghalalkan darah dari sejumlah dedengkot musuh-musuh Islam dan muslimin. Laki-laki dan wanita. Di antaranya ‘Abdul ‘Uzza bin Al Khathal, Hubar bin Al Aswad, dan juga ‘lkrimah bin Abi Jahl.

Ibnu Khathal dibunuh ketika dia berlindung di balik kain penutup Ka’bah. Hubar lari menuju Jeddah. ‘Ikrimah pun diliputi ketakutan dan kekhawatiran akan keselamatan jiwanya. Ia melarikan diri menuju Yaman.

Istrinya, Ummu Hakim bintul Harits yang juga putri pamannya, Al-Harits bin Hisyam telah masuk Islam pada saat Fathu Makkah. Ummu Hakim yang kini telah muslimah memintakan jaminan keamanan kepada Rasulullah bagi suaminya. Rasul pun menuliskan jaminan keamanan untuk ‘Ikrimah.

Setelah itu ia berangkat mencari suaminya. Dalam perjalanan ini dia ditemani oleh budaknya, seorang lelaki dari bangsa Romawi. Di tengah perjalanan, budak ini malah merayu Ummu Hakim dan menggodanya. Ummu Hakim terus memberi makan kepada budak tersebut sehingga tidak berhasil merenggut kehormatannya. Ketika singgah di satu perkampungan Arab, Ummu Hakim minta tolong kepada mereka dari gangguan budaknya. Akhirnya budak Romawi ini ditangkap dan dibelenggu.

Ummu Hakim terus mencari suaminya tercinta. Ia ingin agar sang suami mendapat taufik, menjadi seorang mukmin seperti dia. Dengan izin Allah, Ummu Hakim berhasil menemukan ‘lkrimah di tepi pantai Tihamah. Hampir saja ia naik perahu menuju Yaman.

Dengan penuh harap, Ummu Hakim memanggil-manggil suaminya, “Wahai anak pamanku, aku membawa jaminan keamanan dari Rasulullah. Jika engkau masuk Islam, maka aku adalah istrimu. Jika engkau enggan, maka terputuslah ikatan cinta kasih kita.”

Ikrimah tidak menoleh sama sekali ke arah istrinya. Ia tetap saja naik perahu. Ketika sang nakhoda hendak melepas jangkar, ‘lkrimah mengucapkan doa-doa yang
dipanjatkan kepada Latta dan ‘Uzza. Sang nakhoda menegur ‘lkrimah, Celaka kamu!, ikhlashlah!

Apa yang harus aku ucapkan ?!

Laa ilaha illallah ! Sesungguhnya sedikitpun Latta dan ‘Uzza tidak ada gunanya di saat-saat genting seperti ini !

‘Ikrimah terperanjat dan berkata, Jika tidak ada yang menyelamatkanku di lautan selain ikhlas, maka tentu tidak ada yang menyelamatkanku di daratan melainkan keikhlasan. Celaka diriku ! Ternyata aku lari dari kalimat yang justru menjadi penyelamatku.

Ummu Hakim terus menerus merayu ‘Ikrimah agar kembali ke Makkah, Wahai Ikrimah, aku datang kepadamu dari sisi seorang yang paling menyambung tali kekerabatan, orang yang paling penyantun dan pemaaf, dan seorang yang paling mulia, Muhammad ﷺ. Sesungguhnya ia telah memberikan jaminan keamanan kepadamu. Maka kembalilah !

Maka Ikrimah menerima jaminan tersebut dan kembali menuju Makkah. Di tengah perjalanan, Ummu Hakim membeberkan perihal budaknya yang telah berkhianat dalam safar mencari suaminya. Akhirnya ‘Ikrimah membunuh budak itu sebelum ia masuk Islam. Dalam perjalanan itu juga, ‘lkrimah sempat meminta kepada Ummu Hakim. Akan tetapi Ummu Hakim menolaknya, Aku seorang muslimah, engkau tidak bisa mencampuriku kecuali jika kau masuk Islam.

Ketika mendekati Makkah, Nabi ﷺ bersabda kepada para shahabat, Sebentar lagi akan datang ‘lkrimah bin Abi Jahl, dalam keadaan beriman dan berhijrah. Jangan kalian caci-maki ayahnya. Karena cacian itu tidak akan sampai kepada mayit, justru membuat hati yang masih hidup menjadi sakit.
Nabi ﷺ menyambut kedatangan bekas musuh Islam ini dengan penuh suka cita. Marhaban! Selamat datang wahai sang pengendara yang telah berhijrah!

Apa yang Engkau serukan wahai Muhammad !

Aku menyerukan kepada Laa Ilaaha Ilallah Wa Anni Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan demikian dan demikian.

Sungguh, Engkau mengajak kepada kebenaran !

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ia berseru, “Ya Allah, persaksikanlah bahwa aku adalah muhajir dan mujahid.”

Wahai ‘lkrimah, mintalah sesuatu ! Sungguh, tidaklah engkau minta kepadaku sesuatu yang bisa aku berikan kepada manusia, kecuali pasti aku akan berikan padamu.

Wahai Rasulullah, bukan harta yang aku pinta. Aku adalah orang terkaya Quraisy. Aku hanya meminta agar engkau memohonkan ampun kepada Allah untukku atas setiap pemusuhanku kepadamu. Demi Allah ! Tidak akan aku biarkan harta yang telah aku habiskan untuk memerangimu, kecuali akan aku infakkan pula harta yang senilai itu untuk berjuang di jalan Allah !

Setelah masuk Islam, Nabi ﷺ menetapkan Ummu Hakim dan ‘Ikrimah sebagai suami istri yang sah dengan pernikahan keduanya di masa jahiliyah.

Ummu Salamah pernah bermimpi, melihat ada setandan buah anggur di surga yang dimiliki Abu Jahl. la meminta Nabi ﷺ untuk menafsirkan mimpinya. Maka ketika ‘Ikrimah masuk Islam, beliau berkata kepada Ummu Salamah, Ini dia anggur Abu Jahl.

Demikianlah, sejarah kelam yang dijalani bertahun-tahun oleh ‘lkrimah dan Ummu Hakim dalam memusuhi Rasulullah terkubur sudah. Kini keduanya telah menjadi penolong Allah, pembela Rasulullah, pejuang Islam yang telah siap mengorbankan segaIa-galanya demi tegaknya agama Allah, mengalahkan segenap kebatilan.

Maha suci Allah Yang memiliki dan menguasai qalbu segenap manusia. Dia-lah Yang Membolak-balikkan qalbu manusia sekehendak-Nya. Ya Muqallibal Qulub, tetapkanlah qalbu kami semua di atas agama-Mu, Ya Musharrifal Qulub, arahkanlah qalbu kami agar senantiasa di atas ketaatan beribadah kepada-Mu.

Sepeninggal Rasulullah, ‘Ikrimah ditugaskan oleh Khalifah Abu Bakr untuk memerangi orang-orang murtad di negeri ‘Amman. Dengan izin Allah, pasukan ‘Ikrimah bisa menumpas mereka. Setelah itu Abu Bakr menguasakan Yaman kepada beliau.

Perang Melawan Romawi


Tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam, bahwa di awal tahun 13 Hijriyah, seusai musim haji, setelah berhasil menumpas gelombang pemberontakan di Jazirah Arab, dan meluaskan kekhilafahan hingga Iraq, Abu Bakr Ash Shiddiq mengumpulkan pasukan untuk diarahkan menuju negeri Syam. Saat itu Syam dikuasai oleh kekaisaran Byzantium-Romawi.

Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk memerangi orang-orang kafir di sekitar mereka. Perintah ini telah dijalani oleh Nabi pada tahun 9 Hijriah. Beliau kumpulkan pasukan menuju Syam. Ketika sampai Tabuk, beliau bersama pasukan kembali ke Madinah karena musim panas yang dahsyat dan paceklik yang begitu melilit kaum muslimin.

Beberapa saat menjelang wafat, Nabi ﷺ kembali mengirim pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid ke Syam, dan pasukan tersebut kembali dengan kemenangan gemilang di awal kekhilafahan Ash Shiddiq.

Para gubernur yang tersebar di jazirah Arab seperti ‘Amr bin ‘Ash, Al Walid bin ‘Uqbah, Khalid bin Sa’id, Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah, beliau panggil. Setelah terkumpul sejumlah pasukan, mulailah Abu Bakr mengatur strategi. Pasukan dibagi ke dalam beberapa kompi. Beliau tunjuk komandan perang pada tiap kompi. Masing-masing diarahkan untuk menduduki titik-titik strategis Syam yaitu Damaskus, Tayma’, Palestina, dan Himsh. Tiap pasukan melalui jalan yang berlainan, tidak dari satu gerbang, meneladani jejak Ya’qub ketika mengutus anak-anak beliau menuju istana penguasa Mesir.

Ketika pasukan muslimin mulai memasuki Syam terjadilah beberapa pertempuran kecil di Balqa’, wilayah Palestina, dan Maraj Ash Shafr. Balqa’ berhasil ditundukkan oleh Abu ‘Ubaidah. Begitu pula wilayah Palestina berhasil ditaklukkan Abu Umamah. Adapun di Maraj Ash Shafr, pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Sa’id dipukul mundur. Bahkan Khalid sendiri menyelamatkan diri menuju Dzil Marwah.

Pada awalnya, Khalid berhasil menduduki Tayma‘. Abu Bakr memperkuat pasukan Khalid dengan pasukan Al Walid bin ‘Uqbah dan ‘Ikrimah bin Abi Jahl. Ketika sampai lliya’, ‘Ikrimah dicegat oleh pasukan Romawi yang dipimpin Mahan. Akhirnya, dengan pertolongan Allah, ‘Ikrimah berhasil menyingkirkan aral ini. Mahan lari menuju Damaskus. Sedangkan dari Tayma‘ pasukan Khalid juga merangsek menuju Damaskus. Namun begitu sampai di Maraj Ash Shafr mereka dihadang oleh pasukan Mahan yang kini bersenjata lengkap dengan kekuatan berlipat. Pasukan Khalid tak mampu menghadapinya sehingga akhirnya tercerai berai. Sebagian lari sebagian bertahan.

IKRIMAH BERBURU SYAHID


Dengan penuh ketegaran, ‘Ikrimah tetap bertahan di perbatasan Syam. Menghalau dan mempertahankan pasukan Khalid bin Sa’id yang centang perenang. Jumlah pasukan ‘Ikrimah menjadi 6000-an orang.

Berita terdesaknya pasukan Khalid bin Sa’id sampai kepada khalifah. Seketika itu pula Syurahbil bin Hasanah yang baru datang dari ‘lraq diutus untuk memperkuat pasukan muslimin di Syam. Begitu pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dikirimkan bersama sejumlah pasukan menuju Syam.

Datangnya bala bantuan bagi pasukan muslimin membuat pasukan Romawi gentar. Dengan cepat Heraklius yang saat itu sedang berada di Baitul Maqdis menyerukan para komandannya untuk melawan muslimin yang tersebar dalam kompi-kompi di beberapa penjuru Syam. Tercatat bahwa jumlah pasukan muslimin ketika itu adalah sekitar 24.000 orang melawan Romawi yang berkekuatan 240.000 orang. Menghadapi kekuatan Romawi yang 10 kali lipat, maka pasukan muslimin bersatu padu di bawah komando Abu Ubaidah. Terjadilah pertempuran yang amat sengit di Waqushah, sebuah lembah yang terletak tidak jauh dari Yarmuk.

Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah سبحانه وتعالى menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.

Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin AI-Walid saudara sepupunya berkata, “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin. Kata ‘Ikrimah, Biarlah, hai Khalid. Karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah ﷺ. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah ﷺ.

‘lkrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.

Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk, “Aku dahulu memerangi Rasulullah di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.) ? Lalu dia berseru, Siapa yang mau berbai’at untuk mati ? Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.

Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.

Kata Az-Zuhri, “Waktu itu, ‘lkrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.

Tapi ‘Ikrimah menukas,
Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya ? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.

Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Pada waktu ‘Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah. Semoga Allah سبحانه وتعالى meridhai ‘lkrimah.

📕 Sumber
Majalah Qudwah Edisi 02

Tinggalkan Balasan