SEJARAH PAHIT PARA PENGAKU CINTA AHLUL BAIT

SEJARAH PAHIT PARA PENGAKU CINTA AHLUL BAIT

Al-Ustadz Abu Yusuf Abdirrahman حفظه الله تعالى

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْيَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِل ْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِ يْكَ  لَهُ ، وَأَشْهَدُأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١


Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah سبحانه وتعالى.

Islam adalah agama yang memotivasi pemeluknya untuk bersatu. Lihatlah dalam firman Allah سبحانه وتعالى:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

”Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat AlIah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian karena nikmat AIIah, orang-orang yang bersaudara.”
[Q.S. Ali Imran: 103]

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dan melarang mereka untuk bercerai berai. lni menunjukkan bahwa persatuan merupakan perintah yang harus direalisasikan oleh kaum muslimin. Satu-satunya cara kita bersatu, seperti dalam ayat tersebut, dengan berpegang dengan tali Allah سبحانه وتعالى, agama Allah سبحانه وتعالى, yang terkandung dalam al Quran beserta sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Persatuan merupakan hal yang diperintahkan dalam Islam. Namun, hikmah Allah سبحانه وتعالى menghendaki adanya perpecahan di antara kaum muslimin. Allah سبحانه وتعالى menghendaki di antara mereka ada yang menyimpang, tidak berpegang teguh dengan tali Allah سبحانه وتعالى. Di antara hikmah dari hal tersebut ialah agar tampak mana pula yang benar-benar berusaha berpegang erat dengan tali Allah سبحانه وتعالى dan mana yang rela serta membiarkan perpecahan di tengah umat, tidak berusaha untuk bersatu dengan kaum muslimin.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi menjelaskan mengenai sunatullah ini:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ اْلمَهْدِيِّيْنَ
الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوا بِهَا عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

”Siapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan. Wajib bagi kalian untuk senantiasa bersama sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang teguhlah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham.”

Sungguh benar apa yang Rasulullah ﷺ sampaikan. Tak lama setelah beliau meninggal, terjadilah awal perpecahan di tubuh umat. Perpecahan itu dimulai saat terbunuhnya Utsman bin Affan رضي الله عنه yang dimotori sekte sesat Khawarij. Lalu diikuti dengan bertunasnya sekte Syiah Rafidhah di barisan kaum muslimin. Kemudian berkembang setelahnya sekte Qadariyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, dan seterusnya. Demikianlah, sabda Nabi ﷺ tak akan pernah meleset dan salah. Karena, beliau berucap bukan dari terkaan, bukan juga ramalan atau prediksi. Beliau berucap dengan wahyu dari Allah سبحانه وتعالى.

Ma’asyiral muslimin, yang semoga dirahmati Allah سبحانه وتعالى. Di antara sekte sesat yang paling parah ditemui di zaman ini adalah sekte Syiah Rafidhah. Sekte ini diawali dengan pemikiran seorang Yahudi mengaku masuk Islam yang bernama Abdullah bin Saba’. Kitab-kitab induk rujukan Syiah bersaksi tentang hal itu. An Naubakhti, salah seorang ulama Syiah mengatakan dalam kitabnya Firaq Asy Syiah, “Kelompok Sabaiyah berpendapat bahwa kepemimpinan itu milik Ali, itulah yang Allah wajibkan.

Mereka itulah pengikut Abdullah bin Saba’. Dia menampakkan celaan dan berlepas diri dari Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat. Abdullah bin Saba’ mengatakan bahwa Ali رضي الله عنه lah yang memerintahkan hal itu. Ali pun mengundangnya dan menanyainya tentang hal ini. Abdullah bin Saba’ mengakuinya, maka Ali pun memerintahkan untuk membunuhnya. Namun, orang-orang berteriak, ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda akan membunuh orang yang mengajak untuk mencintai dan berloyalitas kepada kalian para Ahlul Bait serta berlepas diri dari musuh Anda❓’

Maka Ali pun mengusirnya ke daerah Madain.” Adapun pada zaman ini, para Rafidhah menyangkal keterkaitan Syiah dengan Abdullah bin Saba’. Bahkan, mereka menyebarkan bahwa Abdullah bin Saba’ hanyalah cerita rekaan para Ahlus Sunnah untuk menjatuhkan Syiah. Maka referensi pokok Syiah Rafidhah ini menjadi bantahan bagi apa yang disebarkan.

Seandainya para pengikut Syiah ini mengetahui bahwa imam mereka yang tertinggi, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه justru ingin membunuh penghulu mereka. Sekiranya mereka tahu bahwa ajaran yang mereka anut ini merupakan turunan dari agama Yahudi. Seandainya mereka adil, dengan penukilan ini saja, mereka akan rujuk, kembali dari mazhab sesat ini.

Hadirin yang semoga Allah سبحانه وتعالى muliakan. Ternyata sejarah kemunculan Syiah demikian suram. Namun, suramnya Syiah tidak terbatas pada sejarah kemunculannya saja. Banyak sekali sisi kelam kedustaan Syiah. Di antara sisi kelam Syiah adalah pada pengakuan cinta dan loyalitas mereka kepada Ahlul Bait.

Sungguh, pengakuan mereka adalah pengakuan dusta. Cinta yang mereka Iafalkan tak Iebih dari sekadar kata-kata dusta yang tak ada artinya. Berbagai referensi pokok merekalah yang justru mendustakan cinta mereka. Betapa banyak Ahlul Bait, keluarga Rasulullah ﷺ, yang mengeluhkan kejahatan mereka.

lnilah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, mengucapkan sebagaimana dinukilkan dalam Kitab AI Kafi karya Al Kulaini, sang pembesar Syiah, ”Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengatakan, “Seandainya aku memilah Syiahku, tidak akan kudapati kecuali pendusta.

Kalau aku uji mereka, tidak akan kudapati kecuali orang-orang murtad. Dan seandainya aku menyaring mereka, dari seribu pun tidak akan keluar satu orang yang benar.”

Apa yang Ali رضي الله عنه rasakan ini tidak berbeda apa yang dirasakan oleh AI Husain رضي الله عنه. Beliau pernah memanjatkan doa kejelekan untuk syiah kepada Allah سبحانه وتعالى, “Ya Allah, jika Engkau memberikan nikmat kehidupan kepada Syiah, maka pecah belahlah mereka. Jadikanlah mereka berselisih. Janganlah Engkau ridha adanya pemimpin dari mereka selamanya. Mereka menawarkan pertolongan kepada kami, tapi mereka justru memerangi dan membunuh kami.” Demikian disebutkan dalam kitab AI-Irsyad, kitab terpercaya kelompok Syiah.

Di dalam referensi mereka yang Iain, A’yanus Syiah, dikatakan bahwa jumlah penduduk lrak membaiat Husain رضي الله عنه adalah dua puluh ribu orang. Namun mereka lari dari perang dan justru memerangi Husain padahal masih dalam baiatnya. Setelah itu mereka justru membunuhnya.

Referensi mereka juga menukilkan ucapan AI Hasan رضي الله عنه, cucu Nabi Muhammad ﷺ, “Aku berpandangan, demi Allah, Mu’awiyah lebih baik daripada Syiahku (pembelaku). Mereka mengaku sebagai pembelaku, tapi mereka ingin membunuhku dan mengambil hartaku. Demi Allah, aku mengambil perjanjian dengan Mu’awiyah dan darahku terjaga serta keluargaku aman, lebih baik daripada mereka membunuhku serta tersia-siakan keluargaku. Demi Allah, kalau aku berperang dengan Mu’awiyah, beliau akan merangkul tengkukku dan mengembalikan kedamaian kepadaku.”

Demikianlah, apa yang dinukil dari kitab-kitab referensi mereka ini hanyalah sebagai contoh. Ucapan-ucapan Ahlul Bait lainnya, yang menunjukkan khianatnya Syiah dan kebusukan mereka masih banyak Iagi. Ucapan dari imam-imam Ahlul Bait yang mereka jadikan panutan, Zainul Abidin, Al Baqir, Ash Shadiq, dan lainnya, semuanya menunjukkan atas kezaliman yang dilakukan oleh kelompok Syiah.

Belum lagi kedustaan mereka terhadap Aisyah dan Hafshah رضي الله عنها. Mereka tak segan-segan menyebut keduanya sebagai fajirah, wanita fajir. Padahal, Aisyah dan Hafshah رضي الله عنها Iebih utama untuk digolongkan sebagai Ahlul Bait. Kenapa justru menyebut keduanya dengan ucapan busuk seperti itu !? Na’udzu billahi min dzalik !

Ya, kelompok Syiah adalah musuh para Ahlul Bait. Kelompok Syiah adalah musuh Ahlul Bait, namun mereka justru menuduh Ahlus Sunnah sebagai para pembunuh dan pencela Ahlul Bait ‼ Subhanallahi ’amma yashifuun ! Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari apa yang mereka sifati !

Ma’asyiral muslimin, semoga Allah سبحانه وتعالى merahmati kita semua. Kejahatan kaum Syiah tidak hanya pada Ahlul Bait Nabi ﷺ. Mereka juga mencela para sahabat Rasul ﷺ. Mereka mengatakan bahwa para sahabat telah kafir kecuali empat orang: Al Miqdad bin Aswad, Hudzaifah, Salman, dan Abu Dzarr.

Subhanallah❗Allah سبحانه وتعالى yang di atas langit ketujuh telah menyatakan ridha-Nya kepada para sahabat:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ

”Assabiqunal Awwalun dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-Iamanya. Mereka kekal di dalamnya.” [Q.S. At-Taubah: 100] Seandainya Allah سبحانه وتعالى saja menegaskan ridha-Nya bagi mereka, pantaskah kita menuduh mereka sebagai orang kafir ?! Subhanallah ! Pantaskah kita menyeIisihi AI Quran ?!

Sungguh tepat ucapan Abu Zur’ah رضي الله عنه ditujukan kepada mereka, ”Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, ketahuilah bahwa dia itu zindiq ! Karena Rasulullah ﷺ adalah benar, dan Al Quran adalah benar. Yang menyampaikan Al Quran dan sunnah Nabi kepada kita adalah sahabat Rasulullah ﷺ. MEREKA HANYA INGlN MERUSAK SAKSI-SAKSI KlTA untuk membatilkan AI Quran dan sunnah. Sungguh,
mereka lebih berhak dicela ! Mereka itulah para zindiq !”

Sungguh, apa yang kaum Syiah Iakukan berlawanan 180 derajat dengan keyakinan muslimin. Bandingkanlah ucapan kaum Syiah ini dengan apa yang disampaikan oleh Ath Thahawi رحمه الله di dalam Al Aqidah Ath Thahawiyah, ”Kita mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka. Kita tidak berlepas diri dari salah satu pun dari mereka. Kita membenci siapa yang membenci mereka serta menyebut mereka dengan kejelekan. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Benci kepada mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.”

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّا كُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآ يَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ.


📚 KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًامُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَاوَيَرْضَاهُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ٠أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهَ وَحْدَهُ لا
شَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ :

Kaum muslimin yang dirahmati Allah...

Demikianlah kesesatan Syiah yang demikian parah. Yang disebutkan pada khutbah pertama pun hanya sekelumit dari kesesatan mereka yang besar. Bukan seluruhnya. Sayangnya, banyak dari kaum muslimin yang tidak tahu kesesatan mereka. Padahal, buku-buku Syiah ada di sekitar kita. Propaganda Syiah ada di sekitar kita. Kisah-kisah Syiah mulai masuk ke rumah-rumah kaum muslimin. Dalam keadaan, mereka tidak tahu itu adalah keyakinan Syiah, mereka tidak tahu bahwa itu adalah agama Syiah. Tanpa sadar, mereka telah mengadopsinya menjadi sebuah keyakinan, minimalnya kebenaran, yang kemudian sulit untuk kita bantah.

Maka tugas kita, ma’asyiral ikhwah, setelah kita mengetahui bahaya Syiah, kita harus menjauhkan umat dari dakwahnya. Minimalnya keluarga dan sanak saudara kita.

Dakwah tidak harus duduk berceramah di hadapan mereka. Dakwah tidak harus berdiskusi dengan mereka. Bahkan dakwah tidak harus satu tempat dengan mereka. Banyak sarana dakwah di sekitar kita. Ada majalah yang mengupas kesesatan Syiah. Ada buku yang mengupas penyimpangan Syiah. Kita berikan majalah dan buku itu kepada mereka. Kita pun bisa menulis apa yang kita mampui untuk membantah Syiah, tentunya setelah kita mempelajarinya. Semoga Allah menyelamatkan kita, keluarga kita, dan kaum muslimin semuanya dari ajaran-ajaran sesat syiah. Amin

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْ ضَى اللّٰهُمَّ أَ عِزَّ دِيْنَكَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ وَانْصُرْ جُنْدَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ أَ عِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْأَعْدَاءَالدِّيْنِ مِنَ الْكَفَرَةِ وَالْحُوْثِيِيْنَ. آمِيْن يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹
Doa di atas merupakan salah satu contoh dari doa penutup khutbah jumat. Khatib dapat menambah dan mengganti dengan doa lain sesuai dengan kebutuhan.
✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹✹

🌏📕 Sumber
Majalah Qudwah Edisi 29

Tinggalkan Balasan